Via Shutterstock by: Oksana Kuzmina

Mewujudkan Generasi Berprestasi melalui Asupan Makanan Bergizi dan Bernutrisi

Munculnya Generasi Berprestasi tentunya didukung oleh tubuh yang sehat jasmani dan rohani. Gizi dan gizi sangat penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, yang membantu proses pendidikan menjadi lebih efektif.

Dikatakan bahwa asupan makanan di Indonesia masih sangat rendah karena masalah akses pangan dengan pola makan yang memuaskan. Berbicara tentang gizi di Indonesia tidak lepas dari stunting. Dwarfisme di Indonesia sangat tinggi dibandingkan dengan negara tetangga di Asia. Diukur berdasarkan data Studi Kasus Gizi Indonesia yang diterbitkan pada Desember 2021. Indonesia berhasil menurunkan stunting sebesar 3,3% dari 27,7% pada 2019 menjadi 24,4% pada 2021. Data ini diberikan oleh Wakil Menteri Kesehatan Dr. Dante Saksono menawarkan Harbuwono Namun, angka itu masih jauh dari target pemerintah memangkas perlambatan pertumbuhan menjadi 14% pada 2024.

Stunting sebenarnya merupakan masalah yang sangat kompleks karena faktor-faktor tersebut dapat berasal dari nutrisi ibu selama kehamilan, kualitas air, ketersediaan fasilitas bersih dan sanitasi dan tentu saja asupan makanan. Makanan adalah faktor yang sangat penting

Untuk itu, pemerintah tetap harus melakukan pemberian dukungan pangan dan gizi, membangun ketahanan masyarakat agar terhindar dari penyakit tidak menular terkait gizi buruk, dan menciptakan generasi berprestasi.

Data riset kesehatan dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa satu dari empat anak terbelakang, satu dari sepuluh anak kekurangan berat badan, satu dari lima anak kelebihan berat badan atau obesitas, dan satu dari empat anak usia sekolah di Indonesia juga dari anemia. Hal tersebut ditegaskan oleh Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbudristek, Bapak Jumeri, S.TP.M.Si.

Ia juga mengatakan bahwa stunting dan anemia pada anak dapat menurunkan hasil belajar anak di sekolah dan produktivitas mereka selanjutnya saat mereka tumbuh. Sementara itu, anak-anak obesitas lebih mungkin mengembangkan penyakit tidak menular daripada orang dewasa.

BACA JUGA  Tips dan Trik Cara Belajar Bahasa Inggris yang Menyenangkan

Studi menunjukkan bahwa pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik banyak anak di Indonesia menjadi faktor penyebab gizi buruk pada anak sekolah. Akibat kurang gizi yang baik, gaya hidup yang tidak sehat menyebabkan banyak penyakit menular dan tidak menular. Dengan penyakit tidak menular yang meningkat dari hari ke hari pada usia muda, diperkirakan dapat menyebabkan kematian yang serius bagi generasi muda di Indonesia saat ini.

Tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia dalam memperoleh makanan bergizi dan bergizi antara lain:

  • Indonesia masih kekurangan pola makan yang bergizi

Masyarakat Indonesia masih kekurangan pola makan yang bergizi serta pola hidup yang sehat. Sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama yang berpenghasilan rendah, masih mengikuti pola makan yang hanya memenuhi kebutuhan energi sehari-hari, atau dikenal dengan diet fisik, yang kandungan gizinya rendah tetapi dapat memenuhi kebutuhan energinya. Misalnya, makan banyak nasi dan beberapa lauk karena itu semua tentang menyediakan energi yang cukup. Namun, hal ini belum optimal untuk pemenuhan nutrisi.

  •  Kebiasaan makan yang tidak sehat

Masyarakat Indonesia kurang memperhatikan prinsip kecukupan gizi, yaitu tidak dikonsumsi secara berlebihan. Industri makanan bergizi dan bergizi diatur oleh Menteri Kesehatan, seperti biji-bijian, buah-buahan, sayuran, telur, daging, dan produk susu. Pola makan yang baik juga terdiri dari makanan pokok dan zat gizi yang memenuhi kebutuhan zat gizi esensial seperti vitamin, mineral, protein dan lemak, bukan hanya karbohidrat.

  • Kurang  mengonsumsi buah dan sayuran

Warga negara Indonesia masih jauh dari konsumsi buah dan sayuran yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia dibandingkan dengan negara lain. Karena Indonesia sendiri masih banyak mengkonsumsi biji-bijian dan makanan pokok lainnya. Ternyata makanan masyarakat yang sehat dan bergizi jauh lebih mahal dibandingkan dengan makanan pokok masyarakat. Menurut penelitian, rata-rata harga makanan bergizi sekeluarga terendah bisa mencapai 1,2 juta per bulan, tiga kali lipat lebih mahal dari harga makanan sederhana yang tidak melebihi 500 ribu rupiah per bulan untuk satu keluarga. Lagi pula, karena keterjangkauan makanan bergizi dan sehat yang tidak terjangkau oleh masyarakat Indonesia, sekitar setengah dari penduduk Indonesia tidak mampu menjalani hidup sehat dengan harga ini, sehingga tidak mengherankan jika pertumbuhan berhenti terjadi. di Indonesia masih sangat tinggi.

BACA JUGA  Apakah Penting Kesetaraan Gender dalam Pendidikan?

 

Paradoksnya, persentase penduduk dengan pola makan yang buruk, harga pangan yang tinggi dan tidak stabil, tetap menjadi salah satu penyebab terbesar kekurangan gizi pada masyarakat. Padahal Indonesia dikenal kaya akan sumber daya alamnya. Di mana mereka harus hidup dengan layak?

Selain faktor politik pemerintah, hal yang mempengaruhi anak kurang kenyang adalah kurangnya pengetahuan anak tentang gizi yang baik, dan mereka tidak menganggap makanan yang baik hanya karena dipengaruhi oleh iklan. Perhatikan juga jumlah gulanya. Mengenai pemahaman ini, para profesional kesehatan sudah memiliki dosis 4 sendok makan per hari. Artinya, gula sebaiknya tidak lebih dari 4 sendok makan per hari.

Mencapai generasi yang sukses sekaligus mencapai gizi dan gizi yang baik tidak jauh dari peran orang tua dan pendidik. Orang tua dan guru juga berkontribusi terhadap kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang tidak sehat pada anak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan gizi sekolah, dikombinasikan dengan intervensi komunikasi perubahan perilaku, terbukti efektif dalam mendukung perubahan perilaku siswa.

Selain itu, orang tua dapat membatasi ketersediaan makanan kemasan, minuman, dan junk food untuk anak dengan mengurangi atau menyimpannya di tempat yang sulit dijangkau. Sekolah kemudian membatasi penjualan makanan dan minuman dalam kemasan, dan menawarkan minuman sehat seperti air putih yang dapat disediakan secara gratis di setiap sudut sekolah, sehingga memudahkan mereka untuk menjangkau dan meminta mereka untuk membawa bekal.

Dari beberapa langkah tersebut sebenarnya dapat Anda lihat bahwa efeknya bermanfaat bagi anak-anak karena mereka terbiasa hidup sehat dengan nutrisi yang baik. Nutrisi yang cukup akan sampai ke anak-anak. Mengapa diet seimbang mempengaruhi kesehatan anak? Dimana kesehatan anak menjadi kekayaan mereka sehingga mereka bisa fokus belajar. Dan ketika mereka fokus belajar, anak-anak secara alami merasa senang.

BACA JUGA  5 Bahasa Yang Harus Kamu Kuasai sebagai Kaum Milenial Sebelum "Go Internasional"

Mari kita perhatikan bersama-sama Bapak dan Ibu Guru, ibu-ibu dimanapun berada, agar anak-anak benar-benar terinformasikan tentang asupan makanan yang bergizi dan bergizi.